Alam | Teknologi | Akhirat

11/22/2018

Menjadi Diri Sendiri atau Orang Lain ? Pilihlah dengan Bijak

| 11/22/2018
KangNaim - Sobat ku sebagai awal postingan ini, admin memberikan sedikit beberapa paragraf yg mengandung usur perenungan khususnya buat saya sendiri, dan umumnya buat kalian. Semoga apa yg disampaikan berguna buat kalian juga 😊.


Sebenernya judul ini diangkat ketika seseorang sedang merasa ragu dan bimbang tentang ingin menjadi jati diri seperti apakah yang ingin ia kehendaki didalam dirinya.

Sebagai latar belakang, sepatutnya kita harus mengetahui dan menyepakati 2 hal, yakni yg pertama
  • Seseorang tidak akan menggapai sesuatu tanpa melalui campur tangan orang lain. Itu artinya setiap manusia saling membutuhkan satu sama lain. Baik itu berupa jasa, inspirasi, ide, nasihat, edukasi, maupun ideologi orang lain. 
Namun akan berbeda jika kita berasumsi, selanjutnya yg kedua
  • Tentu saja semuanya bisa kita lakukan dan kita dapatkan hanya dengan melalui perlakuan dan pemikiran sendiri. Segalanya bisa ciptakan melalui tangan sendiri (read:hasil pribadi). Tanpa keikutsertaan orang lain.
Dua hal diatas penulis batasi dengan antar manusia. Dua hal berbeda dari sisi kemanusiaan yang tidak bisa disangkal dilihat dari kemampuan manusia yang beragam. Perihal yang kedua penulis tidak mengaitkan sesuatu yang berada diluar nalar pemikiran ataupun keluar dari sisi kemanusiawian. Seperti menciptakan gunung maupun hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh tuhan semata. Sepakat ..

Menjadi diri sendiri atau orang lain ?


Seseorang berkata " Lebih baik saya menjadi diri sendiri dari pada orang lain ". Jika kita memahami lebih dalam menegenai prakata tersebut. Sedangkan yang mengatakannya senang melakukan hal negatif. Mabuk misalnya. Maka kata itu adalah suatu hal yg salah. Melainkan itu hanya suatu pembelaan terhadap diri sendiri, dan mutlak kesesatan. Mengapa ? karna arti menjadi diri sendiri bukanlah merusak diri, melainkan menjaga lahir dan bathinnya dari berbagai kerusakan.

Jika diikuti dengan kata " aku tidak pedulu apa yang orang lain katakan " maka penguatan tersebut adalah suatu hal yg bener bahwa dia telah menjadi diri sendiri yang merusak diri. Secara tidak langsung dia telah menjadi seperti orang lain sebagai perusak diri dengan versi yang berbeda. Dia meniru dan mengikuti. Hal ini bukanlah merupakan jati diri yang sebenarnya.dan jelas ia telah keluar dari jalur "Menjadi diri sendiri".

Lalu seperti apa "menjadi diri sendiri" yang sebenarnya ?


Baiklah,.. anggap saja kita membantah persepsi contoh diatas. Benar, "Saya adalah seorang pemabuk, saya berhak menjadi diri saya sendiri,dan anda tidak berhak mengatur saya, saya benar benar melakukannya atas dasar keinginan sendiri "

Dari anggapan tersebut apakah kita bisa menyimpulkan bahwa yang datang dari sendiri TELAH "menjadi diri sendiri". (maybe yes hmmm🤔). Coba pikirkan lagi dari anggapan diatas. Adakah sesuatu yang berasal dari hawa nafsu, ego, dan klaim ? Tentu iyaaa 🧐

Telah banyak orang yang mengaku menjadi diri sendiri diatas nilai dan norma keburukan dirinya sendiri, senang dan gemar atas yang dilakukannya, serta menganggap orang lain yg tidak seperti dirinya (orang baik) adalah orang munafik yg tidak setuju dan sebenarnya ingin melakukannya juga. Padahal dia ikut dan terjerumus..


Sahabatku, Perlu kita ketahui dan mungkin sebenarnya kita sudah tahu. Bahwa "Hal-hal buruk itu JELAS menyenangkan". Tentu kita tidak akan memperdulikan apa-apa yang ada disekitar kita seakan semuanya murni dan bebas dari segala batasan (yang membatasi). Lepas dan merasa mutlak bahwa "kita adalah kita". Tidak munafik, jujur pada diri sendiri, segalanya kita yang memutuskan.  Hal ini jelas sangat bisa kita mewujudkannya. Namun apakah keinginan berkehendak ?

Jika kita kembali pada Judul tulisan ini. Tentu hanya satu yang kita inginkan. Yakni "Menjadi diri sendiri tanpa mengikuti orang lain" Apakah kita bisa ? (Jelas Bisa). Bagaimana ?

Yang membedakan individu satu diantara lainnya adalah "PROSES BERFIKIR".


Berfikir adalah gerbang dari segala kebebasan. Jika kita bersungguh-sungguh dalam berfikir. Kita akan mengetahui mana hal yang sia-sia dan mana hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri. 

Seandainya kita bisa menembus apa saja yang difikirkan orang-orang yang melakukan hal-hal negatif. Dan kebetulan kita mencoba mengaplikasikanya dengan hanya sekedar bayangan. Kita tentu akan menebak-nebak apa yang akan terjadi. Dan berhujung hancur.

Jika saja kita mencari solusi agar tidak terjerumus dengan penyesalan setelah melakukan hal buruk. Tentu kita hanya akan menemukan jawaban "penyesalan". Tidak dikatakan seseorang yang menjadi diri sendiri karena mengikuti orang lain jika kita membangun diri dengan proses berfikir. Dan proses berfikir yang menghasilkan kebaikan terhadap diri sendiri dapat membentuk kepribadian seutuhnya. Karena pada dasarnya manusia itu fithrah (suci). Dan dapat menjaga kesucian itu. Meskipun kita meniru manusia paling sejati diseluruh alam (Nabi Muhammad SAW). Kita tetaplah menjadi diri sendiri karena memang kita belajar dan menimba ilmu tentang keteladanan beliau.

Dan pada akhirnya penulis berharap semoga kita masih masuk dalam konteks yg terbaik untuk diri kita. Tak ada hasil tanpa perjuangan, dan tak ada perjuangan tanpa niat 😉

Sekian and see you next article ....

Related Posts

1 komentar:

Jika ada Pertanyaan Silahkan isi Komentar dibawah ini 💕